BURAPA PATTAYA BIKE WEEK 2018 | SAAT TEDDY AWS MELIHAT DUA NEGARA DARI SUDUT PANDANG BERBEDA

BURAPA PATTAYA BIKE WEEK 2018 | SAAT TEDDY AWS MELIHAT DUA NEGARA DARI SUDUT PANDANG BERBEDA

Mar 12, 2018 Gastank Family

Event Burapa Pattaya Bike Week menjadi magnet tersendiri bagi para bikers yang gemar melancong dari berbagai penjuru dunia, tak terkecuali dari Indonesia. Event ini telah menjadi agenda wajib dan ajang berkumpulnya para bikers dari berbagai komunitas, kultur, dan negara berbeda. Tiga di antara beberapa bikers Tanah Air yang sempat menghadiri gelaran ke 21 tahun ini adalah Teddy AWS, Ucup ‘Lawless’dan Kevin Pentaxian.

Ketiganya hadir dengan mengendarai motor lawas yang dikendarai dari Malaysia menuju Pattaya, Thailand. Bagi Teddy, Burapa Pattaya Bike Week 2018 menjadi kali ke-3 nya mengahadiri event ini. Beberapa kali bolak-balik ke Negara tetangga, pada kesempatan kali ini ia melihat sesuatu yang berbeda.

Burapa Pattaya Bike Week sendiri sebenarnya adalah event yang diadakan oleh Burappa MC. Meski dibuat oleh sebuah club, namun acara ini sukses menjadi ajang tahunan yang mempersatukan bikers dan pelancong dari seluruh dunia. Event ini juga merupakan charity dengan mengusung semangat damai sehingga tak nampak adanya perbedaan pada bikers lintas negara meski di antara club-club berseberangan sekalipun.

“Kita belajar banyak. Sebuah acara jika dimanage dengan benar bisa jadi sebesar itu. Bayangin 50 ribu lebih orang yang dateng dari berbagai negara, semuanya tertib dan nggak ada yang rebut,” buka Teddy.

Di gelar di sebuah area yang sangat luas, berbagai komunitas memiliki areal masing-masing dan mereka bebas mengunjungi panggung manapun. Dari sisi pariwisata, Teddy juga membayangkan jika hal serupa bisa terjadi di Indonesia.

“Di Burappa kita bener-bener unity in diversity, dan meski acara kumpul komunitas tapi mengusung charity, dan gratis pula. Kalau bisa ada acara semacam ini di Indonesia dan didukung pemerintah, kebayang kan ada berapa turis yang bisa nyumbang di sektor pariwisata di negara kita, apalagi Indonesia alamnya juara,” imbuhnya.

Selama di Thailand, mereka juga sempat mengunjungi Rama Tiga, sebuah toko junkyard yang telah lama dikenal menjual berbagai sparepart hingga mesin-mesin motor bekas. Di sini, mesin Sportster second bisa dibeli dengan harga sekitar hanya Rp 25-30 juta. “Di sini mesin dan sparepart dijual dengan ahrga setengahnya dari harga di Indonesia. Untuk mesin sendiri, aturannya asal ada nomor mesinnya maka bisa dibuatkan surat. Jadi itu support dari pemerintahnya,” paparnya lagi.

Meski merasa sedikit kecewa, protes batin tersebut sempat redam kala ia berbincang kembali dengan Indro ‘Warkop’, salah satu sook yang dianggapnya sudah lebih lama mengenal dunia permotoran di Tanah Air.

“Setelah dari Thailand saya sempet ketemu om Indro. Saya dapet wejangan dari dia. Menurutnya, pemerintah Thailand bisa mendukung industri kreatif otomotif sebab warganya di sana bisa lebih disiplin dan tertib. Seandainya bikers di Indonesia bisa seperti itu, bukan nggak mungkin pemerintah akan memudahkan kita untuk lebih kreatif dari segi industri dan segala macemnya. Kalau sekarang semuanyadiperbolehkan tapi masyarakatnya udah siap belum? Kalau kita aja masih banyak yang belum disiplin memang bisa jadi boomerang buat kita sendiri,” lanjutnya lagi.

“Waktu di Bangkok contoh kecilnya aja saat di lampu merah, kendaraan bisa teratur semua. Saya bukan menjelekkan pengendara di Indonesia karena banyak juga yang disiplin, tapi masih banyak toh yang belum sadar akan hal itu. Jadi seandainya kita sama-sama lebih tertib dan disiplin serta dibarengi support pemerintah, kebayang kan akan sebesar apa industri kreatif dan pariwisatanya. Keren banget pasti!” pungkasnya.

Teks: Wildaf | Foto: Istimewa.