SEEKING OMBAK JAWA | CERITA JELAJAH PANTAI SELATAN

SEEKING OMBAK JAWA | CERITA JELAJAH PANTAI SELATAN

Mar 12, 2018 Gastank Family

Sudah hampir dua minggu kami berkelana mencari ombak-ombak potensial di pantai Selatan Jawa. Dari Pacitan sendiri saya sudah mengeksplor beberapa pantainya yang terkenal untuk surfing, seperti Pantai Teleng Ria, Pantai Pancer Door, Pantai Srau, Pantai Ngirnobowo atau Black Sand, dan Klesem. Masih banyak pantai-pantai di Pacitan yang bisa di eksplore untuk berselancar.

Dari Pacitan kami bergerak menuju kabupaten Trenggalek, sampai di PLTU Sudimoro kami melihat ombak yang potensial dari atas bukit. Bekal bertanya-tanya dengan warga setempat tibalah kami dibibir pantai. Sayang kami tiba terlalu siang angin bertiup sangat kencang sehingga ombak tidak rapi. Akhirnya kami putuskan untuk meninggalkan tempat tersebut hingga sampai di pantai Konang. Sambil makan siang kami mengamati ombak di pantai tersebut. Rupanya rekan saya menilai pantai ini punya ombak yang cukup potensial meskipun ombak saat itu kecil. Akhirnya kami putuskan untuk bermalam disana mencoba keberuntungan dipagi hari. Kami tinggal selama 2 hari 2 malam, ombak besar yang kami tunggu tidak kunjung datang juga.

Oh ya, untuk mengamati ombak kami menggunakan aplikasi dalam system android yaitu surf forcasts. Dari situ kami mengetahui besaran gelombang di tengah laut lengkap dengan arahnya serta kecepatan angin yang datang ke pantai. Namun tidak bisa diprediksi akurat hanya mendekati, karena kondisi alam yang bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk mencari ombak kami juga menentukan arah bibir pantai yang condong ke barat atau timur, karena di Indonesia memiliki 2 musim yaitu panas dan hujan. Arah angin juga berubah seiring dengan musim. Pastinya kalau musim kering angin bertiup dari timur, sedang dimusim penghujan angin bertiup dari barat. Maka dari itu bibir pantai dan datangnya ombak, dan angin sangat berpengaruh dengan kualitas ombak.

Maka dari itu kami selancar hanya pagi dan sore hari sebelum angina berhembus kencang atau mereda disore hari. Pantai konang condong ke barat sedang angin datang dari juga dari barat maka kualitas ombak tidak cukup bagus saat itu. Namun kami cukup enjoy berselancar dengan ombak kecil-kecil. Sebagai kesimpulan pantai ini lebih cocok digunakan selancar di musim panas, karena ada perbukitan yang bisa meredam hembusan angin dari timur.

Sayang meskipun pantai ini punya potensial ombak yang baik. Disini belum tumbuh komunitas selancar. Mungkin belum terlalu ramai dikunjungi para peselancar domestic maupun manca Negara. Namun begitu warga local sangat ramah, malah mereka minta pantainya perkenalkan pada turis-turis asing. Kesimpulannya dengan selancar akan membangun ekonomi warga setempat, yang memungkinkan untuk berdirinya tempat-tempat penginapan, restoran, dan lain-lain untuk mendukung fasilitas pada tempat rekreasi.

Berbekal dari google map, kami putuskan untuk bergerak menuju timur setelah bermalam di pantai konang. Pantai Sanggar yang ingin kami tuju, berjam-jam berkendara tibalah kita di kabupaten Tulung Agung dan menuju pantai. Sayang kondisi hujan tak memungkinkan kami untuk menemukan pantai tersebut. Kami hanya bisa melihat kualitas ombak dari atas bukit.

Rupanya pantai Sanggar belum dibuka secara resmi sehingga infrastruktur masih dalam pengembangan. Pastinya pantai ini masih belum terjamah, listrik, warung, penginapan tidak ada. Meski kami punya bekal tenda, kondisi jalan tanah dan hujan bisa membuat kami terjebak. Dengan pertimbangan peralatan yang kami bawa tidak mungkin kami masuk ke bibir pantai, Karena hari sudah mulai malam kami putuskan untuk menginap di pantai terdekat, yaitu teluk Sene. Air pantai disana cukup tenang sehingga banyak nelayan dan perahu-perahu yang berlindung dari gelombang laut selatan.

Setelah semalam di teluk Sene, kami memutuskan untuk mengarahkan motor kami menuju kota Malang. Setelah istirahat semalam di atas kasur empuk di kota Malang, kami meninggalkan perlatan selancar kami untuk menjelajah Taman Nasional Tengger atau gunung Bromo. Jadi tak sekedar riding the wave, riding adventure juga jadi tujuan kami. Ahh beruntung sekali motor tua saya tidak banyak mengalami masalah. Kami menginap semalam di lautan pasir tepat di kaki gunung Bromo. Setelah udara panas, udara sejuk pegunungan cukup untuk menyegarkan pikiran kami. Setelah itu kami kembali ke kota Malang untuk beristirahat semalam.

Keesokan pagi baru kami melanjutkan menuju pantai Malang Selatan. Hari pertama kami menuju pantai Wedi Awu dan Lenggoksono kira-kira 3 jam riding dari kota Malang. Sampai disana rekan saya Steve Cox langsung saja terpesona dengan keindahan disana, secara spontan dirinya memutuskan untuk tinggal selama 3 hari 2 malam.

Kota Malang yang dikelilingi oleh pegunungan ternyata juga memiliki komunitas selancar yang diberi nama Malang Surf Asossiation (MSA). Anggotanya pemuda sekitar Malang, warga lokal Lenggoksono sendiri sudah memulai surfing sejak tahun 2014, sekarang sudah sekitar 50 orang warga lokal yang surfing baik tua maupun muda. Sayang karena tempatnya yang terpencil fasilitas masih kurang memadai. Namun begitu Steve rekan saya yang datang dari Inggris jatuh cinta dengan pantai ini, selain ombak juga alamnya, warga lokal dan sangat cocok untuknya.

Lepas dari Lenggoksono kami riding kembali ke barat menuju di pantai Ngantep, kira-kira 4 jam perjalanan. Pantai ini juga termasuk baru di dunia selancar Indonesia. Ombak disini cukup besar karena pantai condong ke Samudera Hindia. Namun begitu saya menikmati ombak di sini, karena papan surf yang saya miliki cukup kecil sehingga cocok untuk ombak pantai ini. Nah kalau ombak terlalu kecil  kendala buat saya.

Ini cukup jadi pelajaran bagi saya, dengan trip semacam ini seharusnya saya membawa papan selancar berukuran medium sehingga memungkinkan untuk digunakan selancar di ombak besar maupun kecil. Di pantai ini juga belum ada penggiat surfing lokal, hanya MSA yang cukup aktif mengadakan kontes selancar lokal di pantai ini.

Teks & Foto: Uky Basuki.