GASTANK WEST JAVA JOURNEY DAY 4 | WAYANG WINDU BERASA DI EROPA

GASTANK WEST JAVA JOURNEY DAY 4 | WAYANG WINDU BERASA DI EROPA

Sep 08, 2021

Sudah memasuki hari ke empat perjalanan Gastank West Java Journey – Riding With Frieds Kamis 26/08 dengan rute Pengalengan – Majalengka semangat tim buat ngegas masih terus membara total perjalanan hari ini kami menempuh sekitar 250 km.

Istirahat cukup santap makan juga sesuai selera jadi mood tetap terjaga. “Tidur dan asupan makan yang cukup juga salah satu faktor penting saat touring bersama yang nggak boleh diabaikan,” jelas Didi Fauzi selaku Road Captain perjalanan kali ini.

Mulai dari pukul 5:30 kita semua sudah bersiap starter manasin motor untuk meluncur ke kawasan Wayang Windu di daerah Pengalengan. Tempat ini merupakan kawasan perkebunan teh yang luas, beberapa lokasi juga dimanfaatkan sebagai sumur panas bumi. Asli nih pemandangannya kaya Lo riding di Eropa.

Kawasan ini memiliki kontur perbukitan dan aksesnya melewati jalan batu lepas, kurang bersabat dengan tipikal motor sport yang di pakai oleh Jodie. Tetapi lantaran view pagi hari yang ajib dia tetap kekeh untuk sampai di sekitar areal puncaknya untuk mengabadikan foto yang keren.

“Cukup lama kami disini untuk cari spot yang bagus bikin foto-foto keren disini karena hamparan kebun teh seluruhnya bisa dilihat dengan jelas, langitnya yang biru banget berasa ada di Eropa,” jelas Jodie. 

Setelah puas explore kawasan Wayang Windu kami langsung melipir menelusuri kawasan perkebunan the Malabar yang sangat luas, perebunan ini sudah ada sejak zaman Belanda dibuka tahun 1890. Bisa dilihat dari banguna-bangunan kantor dan gudang tempat penyimpanan masih bergaya Kolonial.

Untuk menuju kota Majalengka rutenya melewati kota Garut,  kita melewati jalan pintas dari kawasan perkebunan teh di Kabupaten Bandung menuju kota Garut. Jadi rutenya melewati Puncak Gunung Cae di kawasah Cihawuk menuju Puncak Drajat Garut. 

Bagi penduduk sekitar, keberadaan jalan yang menembus Puncak Cae cukup membantu mobilitas mereka, terutama ekonomi. Mereka bisa menjangkau daerah Samarang dan kota Garut dengan lebih cepat. Sebelum akses jalan di Puncak Cae diperbaiki, mereka harus memutar turun ke Ciparay, kemudian naik lagi di Kamojang untuk mencapai kota Garut. Jalan Puncak Cae ini memangkas hampir 2 jam perjalanan mereka ke Garut.

“Treknya lumayan ektrim, berbatu dan tanjakannya curam banget cocoknya memang dilintasi pakai motor-motor dual purpose. Nah, lewat jalan pintas ini kita banyak banget memotong waktu,” ujar Herry Axl yang ngegas Kawasaki Versys.

Kawasan Darajat Garut terkenal dengan energi panas bumi yang kini dikelola oleh perusahaan asing. Di bawahnya, kawasan Darajat menjadi tujuan wisata dengan kolam renang air panasnya. Turun dari Darajat, kami menuju Samarang dan Garut Kota.

Dari kota Garut perjalanan melewati Puncak Karaha Bodas menuju Malangbong, diteruskan melintasi kota Sumedang dan menjelang sore hari akhirnya sampai juga kita di kawasan Jati Gede. Merupakan Bendungan atau Waduk yang berada di wilayah Sumedang yang berbatasan langsung dengan Majalengka. 

Waduk Jatigede ini sebetulnya pembangunannya telah lama direncanakan sejak zaman Hindia Belanda. Waduk ini mulai dibangun tahun 2008 pada masa kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono dan baru diresmikan pada tahun 2015 serta beroperasi penuh pada 2017 lalu.

“Buat motoran seru banget di sini jalannya yang mulus dan luas dengan konturnya naik turun dan langsung bisa melihat waduk yang luas dan jalannya masih juga sepi banget,” cerita Ferry Maryadi.

Kita habiskan waktu disini sampai matahari terbenan sambil melihat indahnya sunset dipinggir waduk Jati Gede. Perjalanan kami lanjutkan menuju kota Majalengka untuk menginap di kawasan Paraland Resort yang dapat melihat langsung seluruh kota Majalengka.

Cerita detailnya ada di postingan artikel berikutnya ya