Otto Kayon | Aksesoris Unik Dari Selongsong Peluru

Otto Kayon | Aksesoris Unik Dari Selongsong Peluru

Ags 22, 2019 Fashion

Banyak cara untuk melestarikan suatu benda yang sudah mati dengan menjadikannya memiliki nilai kembali. Contohnya Satrio, yang berhasil memanfaatkan bekas selongsong peluru menjadi aksesoris unik nan bernilai ekonomis.

Ia menamai brandnya Otto Kayon, lahir pada 2014. Berbasis di Yogyakarta, berangkat dari usaha logam turun temurun keluarganya. Di balik aksesoris bergaya kekinian tersebut, ada cerita menarik di belakangnya.

“Workshop ini awalnya usaha keluarga. Dari Pakdhe hingga Bapak kita bikin keris. Kalau tau dulu ada dukun-dukun palsu yang pakai keris di kepala, itu kita yang bikin. Hingga pada 2010 saya gelisah, saya bilang usaha ini nggak berkah.  Akhirnya saya coba cari cara lain agar workshop ini tetap bertahan tapi dengan produk yang lain,” jelas Satrio.

Membuat usaha tentu bukan tanpa kendala. Selain material bahan yang tak banyak umum di pasaran, metode manual juga sempat membuatnya merasa pesimis pada pasar.

c-otto%20kayon.png

Aksesoris-aksesoris di Otto Kayon dibuat dengan metode cor tanah yang jika pada masa kerajaan zaman dulu, banyak digunakan untuk membuat piring, sendok dan sebagainya. Saking jadulnya, metode ini sudah sangat jarang sekali digunakan pada saat ini.

“Awalnya saya sempat pesimis. Misal kita bikin 10 master, dari 1-10 itu hasilnya beda-beda, ada yang tekstrur retak tanahnya di kiri, ada yang di kanan. Saya sempet ngira semua barang yang dihasilkan akan cacat. Wah nggak akan laku deh di pasaran. Sampai saya ketemu orang yang ngomong kalau justru itu nilai seninya. Handmade - tidak akan ada barang yang sama persis satu sama lain,” urainya.

Dari prosesnya sendiri, selongsong peluru dicor alias dilebur di suhu 1000 derajat. Setelah meleleh, cairan tersebut dituang dalam cetakan tanah yang sudah didesain sesuai rancangan. Setelah kering, jadilah bentuk aksesoris yang diinginkan.

Satrio menggunakan dua bahan/warna, gold dan silver. Gold dari bahan full kuningan dari selongsong peluru. Sedangkan silver dari bahan yang dinamainya Alpaca, campuran beberapa kandungan, perak, alloy, kuningan dan zinc. Keduanya sama-sama menghasilkan kesan vintage. “Selongsong peluru sendiri itu unik. Dia bisa menghasilkan warna yang beda dari kuningan biasa. Jadi kesannya itu kaya barang antic. Efeknya kaya kuningan yang sudah berpuluh-puluh tahun”.

Nama Otto Kayon sendiri diambil dari Bahasa Yunanai kuno. Otto, dari Od-Do, Ot berarti kaum, dan To berarti kemakmuran. Sedangkan Kayon berarti gunungan wayang. “Jadi filosofinya itu, tujuannya sih karena saya sendiri seorang pengrajin, raya ingin mensejahterakan kaum-kaum pengrajin (kayon)”. 

Produk Otto Kayon banyak mengusung gaya Native America. Selain aksesoris, Satrio juga mulai merambah pada furniture. “Saya lihat pasar terbesar ada di otomotif, makannya di artikel terbaru saya gabungkan beberapa budaya, motor, skate, gipsy, native America dan Jepang,” tutup Satrio.

Produknya bisa ditemukan di Living Space Yogyakarta dan Union Goods Bandung dengan harga berkisar Rp 299-449 ribu. @ottokayon

Teks: Wildaf, Foto: istimewa.