Art Helmet & Instalation Show “Han Tana Dharma Mangrwa”, Simbol Keberagaman

Art Helmet & Instalation Show “Han Tana Dharma Mangrwa”, Simbol Keberagaman

Nov 13, 2018 Boys Toys

Event Kustomfest 2018 yang dihelat pada 6-7 Oktober 2018 di JEC Yogyakarta beberapa waktu lalu tak hanya menampilkan karya pelaku industri otomotif, namun juga para artist lokal yang kerap mengusung seni keatif dari kultur yang berbeda.

Misalnya pada pagelaran kemarin, terdapat sebuah patung besar yang terbuat dari berbagai onderdil kendaraan garapan para creator Art Jog. Di area yang lain, nampak sebuah karya seni unik, memiliki makna dalam namun tak kehilangan unsur otomotifnya. Ialah Art Helmet & Instalation Show yang berjudul Han Tana Dharma Mangrwa.

Seperti namanya, ini merupakan sebuah seni instalasi yang terdiri dari helm, beberapa benda lain serta karakter tokoh yang merepresentasikan makna dari karya ini. Instalasi ini dicreate oleh Trooper Custom, berkolaborasi dengan @ronny_rontok, @dewadji_ratriarkha, @kholilisme, dan @duwekelek menggunakan helm dari Trooper sebagai media utamanya.

Masing-masing helm ini telah digambar dengan pola dan karakter yang berbeda. Para artist di belakangnya datang dari latar belakang yang berbeda. Sebut saja The Popo (mural), Hari Merdeka (ilustrator), Blesmokie (street art), Alipjon (visual artist), Rubseight (street art), Malikas (visual art), Choirumfadh (pinstripe), dan Isafe Mulyadi (visual art). Perbedaan dari tiap-tiap gambar dan karakter, merujuk pada keberagaman.

Seperti tema yang diusung Kustomfest 2018 - Color of Difference, istalasi ini pun menampilkan makna yang sama. “Melalui instalasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa sebenarnya kita ini adalah bangsa yang besar. Tiap benda dalam diorama ini punya penggambaran. Jika dikaitkan dengan permotoran sekarang, dari instalasi ini kita ingin memperlihatkan bawa sejak dulu kita sudah bermain tempa besi. Jadi kita membuat satu garis, intinya bahwa kita ini adalah bangsa yang besar,” papar Oki Nandhiwardhana, Founder Trooper Custom.

Selain sebagai tema, Tan Hana Dharma Mangrwa juga merupakan sebuah kata yang diambil dari Kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular, yaitu kelanjutan dari kalimat Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa, yang artinya kalau dijadikan satu kalimat berarti “Terpecah belahlah itu tetapi satu jugalah itu, tidak ada kerancuan dalam kebenaran”. Namun karya ini dipicu dari dialog Adipati Karna dalam epos Mahabharata. Sosoknya dalam pewayangan dianggap tepat dengan karakter dan reputasi perannya yang antagonis.

Deretan patung figuratif yang dibangun dalam instalasi ini menggambarkan aktifitas profesi pandé gangsa dan juru gusali beserta para panjak pada sebuah besalen pertukangan logam. Tubuhnya yang sedang bekerja dikesankan membara dalam balutan busana untarasanga. Cakra mahkota sosok sosok tersebut disajikan bertudung pelindung kepala yang telah direspon epik oleh para jagoan ilustrator terpilih. Sebuah simbol kesadaran kosmik yang terselubung oleh sarana perlindungan diri.

Memahami sejarah dan konteks ujaran di atas membuat kita bisa mengerti perbedaan itu sebagai sebuah kekayaan. Di tanah Nusantara, perbedaan adalah keindahan yang menyatukan, karena semua perbedaan itu berujung pada titik kebenaran yang nyaris sama; Tan Hana Dharma Mangrwa. Sebuah ungkapan toleransi sekaligus pemenuhan sikap dan keteguhan tindakan menuju kesejatian diri.

Ambience tempa besi semakin terasa kala riuh rincing bisingnya proses pembuatan instrument itu terdengar melalui sound yang dipasang sengaja di area yang diterangi cahaya terkonfigurasi tersebut. Epic!

Teks: Wildaf, Foto: Istimewa.