Artworker I Agung Mahatma - Kustom Culture Slave

Mei 22, 2017 Goods
Agung-Mahatma-02-1-of-1-576x1024.jpg Pinstripe merupakan salah satu pekerjaan seni yang sedang ditekuni Agung Mahatma. Tidak instan, Agung menjalani proses otodidak semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Berkat ketekunannya, pemuda asal Tulikup Gianyar Bali ini berhasil membuat karya-karyanya dilirik orang, hingga kebanjiran order. Meski begitu, ia anti kerja malam apalagi sampai begadang. “Kerja pagi lebih segar apalagi bisa dengar suara burung berkicau, membuat mood lebih baik saat kerja,” ujar Agung di studionya. Agung-Mahatma-07-1-of-1-576x1024.jpg Singkat cerita, Agung Mahatma memang demen gambar sejak kecil. Ia dibesarkan dari keluarga yang tidak jauh-jauh dari motor. Ayah mantan mekanik, dan menularkan skillnya pada anak-anaknya yang sekarang juga demen mengcustom motor. Agung yang berangkat dari hobi musik, karena doyan mantengin video clip Rancid dan band asal Bali Superman Is Dead (SID), timbulah ketertarikan dengan custom culture. Ia mulai penasaran dengan sepeda-sepeda low rider, dari situ terus berkembang. Agung-Mahatma-08-1-of-1-1024x576.jpg Ia memulai project dengan membangun sepeda-sepeda low rider yang dilakoni sampai sekarang. Berhasil dengan sepeda low rider, ia lantas mencoba menggabungkannya dengan hobi menggambar bergenre pinstripe. Trial and error, awalnya ia mengunakan sticker untuk grafis sepedanya. Seiring berjalannya waktu, ia baru sadar jika pinstripe menggunakan cat minyak. Youtube membantunya dalam mengasah skillnya. Masalah lain, tidak banyak informasi di Gianyar saat itu. Ia juga tak memiliki tools pinstripe seperti sekarang, nasib baik, dalam prosesnya ia ditemukan dengan Adi basist band rockabilly The Hydrant. Ada kuas yang sampai sekarang ia simpan dari pemberian Adi. Agung-Mahatma-01-1-of-1-576x1024.jpg Agung-Mahatma-06-1-of-1-576x1024.jpg Skill terus diasah dan terciptalah karya-karya apik, tentu Adi sangat senang karena tidak sia-sia memberikan alat pada Agung. Sejak itu, Agung mulai diendorse oleh Rumble (RMBL), sebuah label clothing kreasi Adi, dan saat itu juga ia mendapat julukan Kustom Culture Slave. IMG-20170514-WA0012-768x1024.jpg IMG-20170514-WA0009-768x1024.jpg IMG-20170514-WA0003.jpg Waktu pengerjaan project bisa satu minggu sampai satu bulan tergantung order menumpuk atau tidak. Agung mengaku order mulai ramai saat ia memposting hasil karyanya di instagram. Berkat teknologi komunikasi, ia pun kini lebih mudah mengakses informasi dari luar, kebutuhan tools pun dapat dipenuhi dari online shop. Akhirnya pinstripe pun dapat menunjang hidupnya, ia pun giat seliweran di beberapa event custom culture, tak cuma di Bali bahkan sampai Bandung. Alhasil, ia bisa bertemu dengan artist pinstripe senior M. Syamsul Fahmi dari Freeflow yang juga jadi panutannya. IMG-20170514-WA0013-1024x1024.jpg IMG-20170514-WA0008-1024x1024.jpg @agungmahatma Teks: Uky Basuki / Foto: Istimewa