Burnout 2019 Ambyar!

Burnout 2019 Ambyar!

Sep 10, 2019 Event

Ambyar! Satu kata yang sepertinya paling pas untuk menggambarkan Burnout 2019. Tentunya dalam konotasi positif. Mengamati acara ini dari tahun ke tahun, konsep-konsep yang diusung semakin matang, begitu pula dengan antusias para pengunjungnya.

Seperti gelaran tahun ke-5 ini, mengusung tema “Spirit of Legiondary”, menggambarkan semangat berkobar dari Burnsquad (para punggawa Burnout) yang manyoritas diisi oleh anak muda.

“Spirit of Legiondary” - terinspirasi dari semangat sebuah legiun yang melegenda, Legiun Mangkunegaran. Sebuah pasukan elit yang dibentuk oleh Mangkunegara II pada tahun 1808 yang terinspirasi dari pasukan modern Grande Armee, angkatan darat terkuat di dunia pada saat itu pimpinan Napoleon Bonaparte.

Meski dalam sejarahnya Mangkunegaraan “lebih pro kolonial”, namun Burnsquad mengambil sisi positif dari semangat mereka yang pantang menyerah. Fendy Aris, salah satu Founder Burnout menjelaskan konsep yang disungnya tersebut.

“Mengesampingkan hal itu, kita mengambil semangat para legiun pada masa itu yang gagah berani dan bisa mengadopsi budaya luar, tapi tidak melupakan budaya Jawa. Kami ingin membuat pandangan bahwa kita tidak selamanya harus terjejali dengan custom culture luar tapi lupa budaya sekitar, yang sebenarnya bisa diterapkan juga. Benang merahnya, kita mengambil semangat para legiun yang mempunyai semangat dan dedikasi tinggi atas apa yang mereka pilih dan nilai-nilai budaya yang tetap mereka jaga kuat,” papar Fendy.

Menyatukan dengan tema, acara ini digelar hari Sabtu (7/9) di Lapangan Kavelerie Pamedan Puro Mangkunegaran. Lokasi yang sangat erat dengan unsur kebudayaan yang diadopsi kali ini.

Tema kultural juga disokong melalui instalasi-instalasinya. Penanaman bendera di sudut-sudut instalasi, serta ‘tokoh-tokoh’ pasukan yang disupport oleh Trooper Helmet yang menyokong tema legion.

Ada lebih dari 100 motor yang terpanjang di area eksibisi custom bike, dan setidaknya ada 30 garage yang menampilkan karyanya di acara ini seperti dari Solo Raya, Jogja, Semarang, Surabaya, Jakarta dan Bandung, tak terkecuali berbagai pihak mulai dari pihak event, artworkers, komunitas, hingga brand-brand local apparel.

Tradisi acara yaitu burnout diadakan di penghujung acara, tepat sebelum penampilan Didi Kempot. Sayangnya, Tong Setan yang juga menjadi kekhasan acara Burnout tahun ini harus ditiadakan dikarenakan peraturan lokasi yang tidak memungkinkan. 

Salah satu yang bisa dibilang menjadi pendobrak adalah kehadiran ‘The Godfather of Broken heart’ - Didi Kempot sebagai tamu spesial di gelaran kali ini. Selain tahun ini menjadi moment kebangkitannya penyanyi gaek ini, ditambah karena memang Solo merupakan kampung halamannya.

Sontak saja selain murni custom enthusiast, ini juga yang menyedot para ‘Sobat Ambyar’ sebutan untuk komunitas para penggemarnya untuk datang ke acaranya yang dibanderol tiket masuk Rp 30 ribu tersebut. Didi Kempot yang dijadwalkan hanya manggung 1 jam mulai pukul 11 malam, sampai perform hingga satu setengah jam. 13.000 pengunjung pun dihibur habis-habisan oleh lagu-lagu campursari khasnya. Ambyar!

Eko Sutanto, salah satu Founder Burnout pun menanggapi hal ini sebagai sebuah pekerjaan rumah untuk Burnout berikutnya. “Bisa dibilang, Burnout sudah menjadi event tahunan yang ditunggu-tunggu di Solo. Alhamdulillah gelaran ke-5 ini juga pecah, tapi ini jadi peer juga buat kami kedepannya. Gimana caranya membuat orang-orang yang hadir memang datang untuk acaranya, bukan artist atau karena siapa yang diusung. Jadi kami masih akan terus belajar,” pungkasnya.

Teks: Wildaf, Foto: Ardhy Kencana.