Customland “Goes to Campus 02”

Customland “Goes to Campus 02”

Jul 03, 2019 Event

Bagi orang-orang pecinta motor custom yang sering disebut sebagai custom enthusiast tentu sudah tak asing dengan istilah custom culture atau kustom kultur. Pengertiannya bisa dipahami sendiri melalui kegiatan permotoran yang dialami langsung atau dengan melihat event-event serupa yang kini hampir selalu ada saban bulan di berbagai daerah.

Ada yang menarik. Custom culture diperkenalkan secara berbeda oleh Dwi Prasetya melalui sebuah ‘perkuliahan’ tentang custom culture dalam program Customland “Goes to Campus”.

Pras, panggilan akrabnya, adalah Founder dari Customland, sekaligus seorang dosen Pendidikan dan Seni Rupa di Universitas Adi Buana - Surabaya. Sejalan dengan visi misi Customland yang erat berkaitan dengan edukasi, Goes to Campus merupakan bentuk social edukasi dalam memperkenalkan custom culture di ranah kampus di Surabaya dan sekitarnya. 

Ini adalah Custom to Campus ke-2 yang digelar Kamis (27/6/19) lalu di depan mahasiswa Fakuktas Ekonomi Universitas Adi Buana Surabaya. Sebelumnya Goes to Campus 01 sudah digelar pada April lalu bersama mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya.

“Custom to Campus sebenarnya program sosial pendidikan dari Customland untuk berbagi ilmu ke ranah akademisi. Kenapa pilih kampus, karena berkendara itu kalau diumpamakan seperti SIM, usia SMA itu masih terlalu dini,” buka Pras.

‘Perkuliahan’ ini berlangsung sekitar 2 jam saja. Pemaparan dimulai dengan memperkenalkan Customland itu sendiri, kegiatan-kegiatan di dalamnya termasuk bagaimana menggagas, menciptakan ide, konsep, komunikasi, positioning, manajemen hingga promosi dan lain-lain. Tak ketinggalan tentunya intisari dari itu sendiri, yakni sejarah custom culture dan apa yang terjadi pada hari ini di kultur permotoran.

Pematerinya adalah Pras sendiri, Prima Yurie (Customland Founder), Dicky (Blackbone mottoworks), Edo (Verne Indonesia), Erwin (Foltibaffi.co.id), Rockmad Custom (Lowrider Surabaya).

Perkuliahan dikemas dalam bentuk talkshow supaya lebih santai. Materi custom culture disesuaikan dengan masing-masing jurusan. Semisal Fakultas Ekonomi dengan bahasan creativepreneur, kewirausahaan, menejemen dan lainnya, atau pada jurusan Bahasa dan Seni banyak dibahas tentang desain produk, craftsmanship, promosian dan sebagainya.

“Selebihnya kami mencoba membuka dialog tentang pergerakan Customland dengan jurusuan yang mereka tekuni. Kita pengen ngasih gambaran juga kalau di luar jurusan mereka, di custom culture juga ada profesi-profesi lain yang bisa dipilih,” sambungnya.

Lanjutnya lagi, “ini menarik karena nggak semua mahasiswa tau apa itu custom culture. Mereka kaget karena ada yang sama sekali nggak tau. Makannya ini bisa jadi pemahaman baru bukan cuma buat mahasiswanya, tapi juga para pengajar seperti dosen, kepala jurusan pun antusias,” imbuh Pras.

Indeed. Apapun bentuk pembelajaran maka akan menghasilkan suatu ilmu baru. Bukan hanya bagi mahasiswa, tapi juga buat pemateri itu sendiri.

“Kita kan diskusi di situ, berdialog berinteraksi dengan mahasiswa berbeda jurusan, nah kita pun menemukan ilmu-ilmu lain dari mereka yang bisa jadi nggak kepikiran bagi kita buat melakukan itu. Bahwa pertanyaan-pertanyaan mahasiswi yang sebenarnya dasar bagi kami, tapi itu perlu buat mereka. Semacam itulah timbal baliknya,” tutup Pras.

Kegiatan ini juga diisi dengan eksibisi karya khas custom culture di area kampus. Next Customland “Goes to Campus” ini rencananya sih bakal menyambangi kampus-kampus lain di Surabaya dan sharing lebih banyak tentang custom culture. Cool movement.

Teks: Wildaf, Foto: Istimewa.