Gemuruh Motor dan Gendang Baleganjur Buka Jambore Internasional Royal Enfield 2019

Gemuruh Motor dan Gendang Baleganjur Buka Jambore Internasional Royal Enfield 2019

Ags 28, 2019 Event

Lebih dari 300 bikers Royal Riders Indonesia (RoRI) bertolak dari dealer Royal Enfield di Sunset Road untuk membuka gelaran akbar International Royal Enfield Jamboree 2019 yang digelar Sabtu dan minggu, (24-25/8/19) di Pantai Melasti, Bali.

Para pesertanya mulai dari member internal RoRI yang berasal dari berbagai chapter di Indonesia, hingga klub dan komunitas tamu seperti Himpunan Motor Tua Bali, Pelangi Bali British Motorcycle Club dan banyak lainnya. Selain itu, beberapa pecinta motor yang berasal dari negeri tetangga turut mengikut kegiatan yang dimulai pada pukul 08.30 pagi tersebut.

Jamboree Morning Ride sendiri diadakan untuk menjalin silaturahmi antar bikers, tidak spesifik hanya untuk pengguna Royal Enfield saja. National President RoRI, Donny Hendaris mengatakan, “para riders dibawa berkeliling ujung selatan pulau Bali, hingga finish di area lokasi Jamboree, yaitu Pantai Melasti yang menawarkan sejuta pesona”.

Sesampainya di Pantai, para riders belum diperbolehkan memasuki area kegiatan. Dalam rangka menghargai kearifan budaya setempat, panitia pelaksana mengadakan opening ceremony yang merupakan upacara khas agama Hindu Dharma Bali, yang kemudian disambut oleh ragam tarian Baleganjur.

Salah satu rider asal Jepang yang juga penggagas merek clothing Krafty Tokyo, Hideaki Atsuta mengapresiasi kehadiran budaya lokal yang memang dinanti para ekspat. “Baru mulai saja, kami sudah disajikan dengan nuansa Bali yang tidak hanya indah, namun juga magis. Cukup membayar kelelahan selama penerbangan di hari sebelumnya,” ujar Hideaki.

Communications Director Royal Riders Indonesia Joseph Sinaga menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya promosi budaya Indonesia, khususnya Bali, bagi para penikmat roda dua di Asia Tenggara. RoRI juga turut mengampanyekan event khas penggemar roda yang dibalut dengan pagelaran budaya nasional, tidak hanya musik modern saja. “Hal ini penting agar budaya kita semakin dikenal dan dinikmati masyarakat dunia, juga diteruskan ke generasi muda,” tutup Joseph.

Teks: Wildaf, Foto: Istimewa.