Profile: Mr. Grounds | Rembang’s Heritage

Profile: Mr. Grounds | Rembang’s Heritage

Mar 15, 2019 Profile

Mr Grounds adalah salah satu dari sekian builder di pulau Jawa, spesialis engine building. Bernama asli Epoy Sugono, pria asli Rembang ini belajar mengerjakan semuanya secara otodidak di bengkelnya Mesin Ngapak, di Desa Sumampir Rembang, Purbalingga.

Mulai dari L-Twin, V-Twin hingga mesin Inline sudah biasa ia kerjakan. Langsung saja kita ngobrol dengan pria berjuluk Mr. Grounds ini.

Gimana sih cerita awal mula menjadi engine builder ini?

Pada akhir 2011 saya kembali ke Rembang setelah sebelumnya bekerja menjadi mekanik umum di Medan. Saat itu saya belum ngerti sama sekali soal ngubah mesin.

Pada 2012, saya bikin mesin untuk pertama kalinya, yaitu motor saya sendiri dari basik Honda CB dirubah menjadi L-twin upgrade hingga 400 cc. Saya pikir, kayanya menarik nih mainan mesin. Dari situ, singkatnya banyak teman-teman yang tertarik untuk membuat yang serupa. Ya sudah, totalitas saya jadi engine builder aja.

Saya belajar semuanya secara otodidak. Saya kan basiknya mekanik, jadi saya tinggal mengembangkan hasil las, susuan, dan ketahanan.

Biasanya mesin dibangun speknya untuk apa?

Mesin yang saya bangun ini speknya untuk harian-turing. Customerku kan rata-rata orang jauh dan memang anak-anak turing, Alhamdulillah untuk turing Jawa-Sumatera itu aman.

Untuk pengerjaannya, peralatan apa saja yang digunakan?

Saya hanya baru punya mesin milling. Untuk bubut saja saya harus keluar. Sisanya semua pengerjaan tangan.

Apa saja sih yang persiapan dan perhitungan dalam membangun mesin ini?

Persiapan awal pastinya saya tanya dulu basik dan spek mesin, lalu ingin diupgrade sampai berapa CC. Kalau tahapannya sih sama. Dari bubut, ngecor, sampai merakit, semuanya saya kerjain sendiri.

Prinsip Mr. Grounds dalam membangun mesin?

Saya paling utamakan ketahanan mesin. Buat saya ini bukan semata-mata hanya bisnis, tetapi karya seni. Kadang rugi pun nggak  masalah yang penting hasilnya bagus.

Sering malah kalau dihitung saya rugi. Tapi ketika hasilnya bagus itu kebayar rasanya. Karna ini karya saya sendiri. Kalau bisa dibilang, ini adalah hobi yang dibayar.

Proses pengerjaan yang paling susah itu bagian apa?

Mungkin di bagian finishing untuk cor. Karena ngecornya sendiri udah rumit, nah yang lebih rumit lagi itu finishingnya. Karena saya nggak mau cuma asal jadi. Dari dulu saya memang ngebentuk yang sedemikian rupa, sekiranya hasil las dengan crankcase itu seolah kaya nyatu.

Pernah gagal dalam membangun mesin?

Intinya sulit itu pasti, tapi makannya kita harus mampu berfikir di atas rata-rata. Saya pakai cara mekanik lah. Yang namanya custom kan nggak ada hal yang nggak mungkin, semuanya pasti bisa. Misalnya saat ngebangun mesin Byson untuk pertama kalinya, ya harus bisa dan Insyallah pasti bisa.

Alhmdulillah kalau kendala selama ini paling masalah pendanaan. Kalau sama mesinnya sih nggak ada. Karena waktu pertama kali aja saya benar-benar ngerjain semuanya dengan tangan. Dari ngeratain pakai amplas, ngebor, tuner. Dari keterbatasan itulah kedepannya saya bisa beli mesin-mesin murah. 

Dari mana dapat materialnya?

Lebih banyak beli secara online. Dari teman-teman lapak peretelan.

Paling favorit bikin mesin apa? Mesin terekstim apa yang pernah dibuat? 

Kalau favorit sih saya senang ngerjain semua mesin. Makin sulit makin tertantang. Karena setelah jadi pun akan ada kebanggaan tersediri.

Mayoritas sih dari basik CB, GL dan Byson. Karena saya juga kan ikut komunitas Honda CB - Chip Purbalingga. Rata-rata saya ngebangun mesin L-twin, V-twin dan V4 juga.

Punya idola nggak di dunia permesinan ini?

Idola saya sebenarnya Psycoengine. Karena Mas Yusuf itu bukan cuma teman, tapi udah kaya idola dan menginspirasi saya.

Saya kenal dia tahun 2013. Dia itu teman main CB dan kita suka turing bareng. Tapi kita sendiri nggak pernah ngomongin mesin sama sekali kalau ketemu. Saya pun nggak pernah belajar sama dia. 

Dia itu sosok yang tegap, tangguh lah. Dia dulu pernah kena musibah kebakaran kan, tapi bisa bangkit. Saya aja nggak bisa ngebayangin. Tapi selain itu, karya-karya dia memang menginspirasi.

Oke, yang terakhir nih mas. Boleh tau nggak sih range harga dari jasa Mr. Grounds ini?

Untuk harga yang menentukan itu basic mesin, karena tiap mesin akan beda rinciannya. Misal basic Honda Tiger. Customer hanya bawa satu unit atau segelondong mesin, nanti terima  jadi sudah beserta knalpot. Untuk mesin L-Twin itu Rp 15 juta, V-Twin Rp 18 juta, dan Inline Rp 22 juta. Kurang lebih segitu.

Ok Mr. Grounds. Terima kasih untuk percakapannya!

Teks: Wildaf, Foto: Bani, Istimewa.