The Top 10 Custom Bike of 2017 – Gastank Reader’s Choice

Tahun 2017 bisa dibilang sebagai golden year-nya scene custom di Indonesia. Motor-motor dengan karya luar biasa banyak bermunculan dari builder-builder Tanah Air. Mulai dari ubahan sederhana, ekstrim, bahkan sampai melahirkan movement tersendiri.

2017 pun semakin berwarna dengan kehadiran motor-motor indah ubahan builder lokal kita. Tak sedikit karya mereka dikagumi oleh tokoh-tokoh permotoran dunia. Semuanya punya cerita masing-masing.

Berikut, kami tampilkan kembali Best Top 10 custom bike sepanjang tahun 2017 berdasarkan hits dari pembaca.

 

Harley-Davidson Sportster 883 – Iconic Bike Suryanation Motorland 2017

Harley-Davidson Sportster 883 berkelir merah tak lain merupakan Iconic Bike dari custom show Suryanation Motorland 2017. Motor ini digarap oleh 3 builder dari 2 negara, M. Yusuf Adib Mustofa – Phsycoengine, Kaichiroh Kurosu – Cherry’s Company Jepang, dan Lulut Wahyudi - Retro Classic Cycles Yogyakarta dengan mengusung konsep drag style.

Yang special, mesin yang awalnya berkonfigurasi V-Twin oleh diubah oleh tangan dingin Yusuf menjadi W Engine. Motor ini pun telah dites sejauh 70 km dan tak ditemukan masalah. Rangka dan body set dikerjakan oleh Kurosu langsung di Jepang.

Sementara untuk finishing, dikerjakan oleh Hacka Pinstripe dengan konsep warna merah yang berani, dikolaborasi dengan warna gold. Motor makin indah dengan pinstripe berbahasa Jawa kuno pada bagian tangki. Tak heran, jika kehadirannya apling banyak menarik perhatian para pecinta custom.

 

Harley Davidson Sportster 2002 by AB-35 Garage

Nama Alvin Bonne sudah tak asing di telinga para penggila adu balap motor. Khusus Harley-Davidson Sportster lansiran 2009 miliknya ini, ia membuat penampilannya jadi lebih sporty. Digarap di workshop AB-35 Garage miliknya, motor ini merujuk pada motor balap bergaya era 70-an.

Tampilan bawaan yang dirasa kurang sporty langsung dirombak. Sesuai konsepnya, nuansa era 70-an paling nampak dari pemasangan knalpot model tinggi milik Super Trap khas A.M.A (American Motorcyclist Association).

Oleh Bonne, motor ini dibuat senyaman mungkin untuk riding, punya performa tinggi, dan harus enak dilihat. Desain tracker ini dibuat lebih modern, seperti penambahan suspensi teleskopik dengan rangka belakang FXR, serta cover headlamp milik A.M.A.

 

Harley-Davidson Sporter 883 1996 by Garasi 19

Di balik penampilannya yang sederhana, motor ini punya banyak cerita. Sportster lansiran 1996 ini terbilang nyaman dengan kubikasi mesin 883 cc yang tidak terlalu besar untuk sebuah motor adventure.

Meski nampak biasa, kelebihannya justru ada pada detail. Misalnya penggunaan karet tangki yang berfungsi sebagai stopper bagi pengendara jika terjadi pengereman mendadak. Motor ini juga didesain sebagai motor ‘petualang’. Dengan ground clearance yang lebih tinggi, penambahan side bag, dan riding position yang senyaman mungkin.

Oleh Garasi 19, Sportster bergaya scrambler ini sengaja diciptakan sebagai motor ‘solo’ seperti keinginan pemiliknya. Walau terkesan gagah dengan balutan ban kasar, namun tetap saja tak bisa digunakan untuk menerjang jalan tanah. Yang pasti jika dari sisi kenyamanan maupun penampilannya, motor ini udah asik banget.

 

Honda Megapro 1999 by Weekend In Garage

Tampilannya yang eksotis dengan pemilihan warna ungu dan grafis yang khas, mengingatkan dengan besutan chopper era 70-an. Style digger dipilih oleh builder asal Semarang, Idam habibi untuk melayani egonya.

Honda Megapro keluaran 1999 ini ia rombak tanpa menyisihkan satu part pun selain glondongan mesin 150cc nya. Digger garapannya terbilang apik, terlebih pada pengerjaan suspensi depan model girder yang masih jarang diaplikasi oleh builder Tanah Air.

Sementara pemilihan warna ungu didasarkan pada kesenangannya pada band lawas, Deep Purple. Warna ungu tak hanya mendominasi bagian body, namun juga hingga ke blok mesin. Di sisi lain, warna ungu juga merupakan warna favorit sang ibunya yang telah tiada. Dedikasi rasa cinta terhadap ibunya, ia torehkan pada tutup boks bertuliskan “pristine” yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia tak lain adalah nama ibunya.

 

Kawasaki KZ200 1982 by Three Monkeys Engineering

Melihat dari sosoknya yang nampak lebih kecil dari skinny chopper pada umumnya, itu tak lain karena pemiliknya yang seorang lady biker. Onny Widiyayana sebagai builder Three Monkeys Engineering menggarap Kawasaki KZ200 sesuai proporsi tubuh si owner.

Karena urusan proporsi ini juga lah, yang menjadi tantangan bagi builder asal Semarang ini. Motor bergaya chopper ini harus benar-benar disesuaikan agar mudah dikendarai dan tetap nyaman.

Chopper berjuluk Pinky Lady ini ia garap mengaplikasi bahan dari material pipa seamless 3/4 inch untuk susunan tulangnya, dan stainless untuk bagian springer depan. Kolaborasi ini membuat motor jadi mudah dikendarai. Tampilannya juga tampak menarik, dengan model stang, knalpot serta sissy bar. Ditambah dengan teknik pengecatan dari Moled_Leedz Paint yang membuat penampilannya cantik.

 

Yamaha SR400 1998 by Oldhome Garage

Pada gelaran Kustomfest 2017, board tracker garapan Oldhome Garage ini sempat menarik hati Makoto Watanabe, salah satu juri internasional yang menjadikannya jawara FFA Main Class.

Geyong sebagai buildernya, mendandai motor ini dengan nuansa Jawa, membuat penampilannya sangat unik. Sentuhan budaya Jawa Barat muncul pada penambahan beberapa aksesoris, misalnya persneling custom dari bahan stick model Kujang, senjata tradisional Jawa Barat. Bagian penampung bahan bakar juga ditambahkan ‘cover’ untuk menambah estetika.

Board track ini pun makin manis dengan penambahan material kuningan pada beberapa bagian. Cat warna merah tua dan silver yang digarap Hacka Pinstriping, merupakan representasi sosok Cepot, yang memiliki karakter humoris dan punya kulit warna merah”.

 

Moto Guzzi V7 Classic 2013 by Studio Motor Jakarta

Studio Motor Jakarta yang telah berdiri sejak 2008 memang langganan custom motor-motor berkapasitas mesin besar. Moto Guzzi V7 Classic yang punya tampilan kalem ini pun diubah Donny Arianto menjadi scrambler dengan tampilan fancy.

Tangkinya masih dipertahankan agar ciri khas Moto Guzzi tidak hilang. Penggunaan part aftermarket juga terlihat pada beberapa bagian. Sementara area kaki-kaki dibuat lebih gambot dengan pengaplikasian ban lebar dual purpose.

Untuk menambah kesan gagah, ia mengaplikasikan knalpot custom garapan Studio Motor yang ditambahkan silencer Akrapovic untuk sensasi suara yang berbeda. Terakhir motor dipoles dengan finishing warna biru cerah bersentuhan ciralic, dikombinasikan warna abu-abu di area tangki garapan Komet Studio.

 

Ducati 860 GT 1975 by Sabotagecycles

Ducati lansran 1975 dengan konfigurasi mesin L-Type ini dibuat layaknya motor balap era 70-an, Grand Prix Imola yang terkenal sebagai ajang balap mobil premium Formula 1. Tema café racer ini dibiarkan tanpa fairing, untuk menonjolkan karakter mesin besar dari Ducati 860 GT.

Melihat fisiknya, Ducati 860 GT – Imola ini terlihat seperti motor balap Ducati MH900e. Perbedaannya terletak pada penggunaan fairing yang sebagai kedok headlamp depan. Menariknya, frame original motor ini dilabur warna tosca, yang memberikan kesan segar pada body yang dikonsep warna silver.

Oleh builder Sabotagecycles, setiap detail lekukan bodinya benar-benar mengambil konsep Ducati Imola Racer. Kesan racy juga terlihat pada penggunaan stang telefix yang posisinya sedikit menukik. Bagian menarik, ada pada lampu depan yang menggunakan Ferrari original fog lamp marchal – Italia.

 

Ducati Street Fighter 848 2015 by Smoked Garage

Salah satu garapan istimewa dari Smoked Garage adalah SG-848x Neo Caferacer ini. Motor besbasis Ducati Street Fighter 848 milik Nicko Eigert ini dibangun dengan konsep super futuristic.

Bagi tim Smoked, mencari konsep dianggap bukan perkara mudah untuk menciptakan sesuatu yang di luar kebiasaan, salah satunya pada motor ini. Pembangunannya bisa dibilang cukup rumit. Untuk framenya saja, proses memakan waktu hingga 9 bulan, mulai pada cangkang luar hingga lembaran aluminium. Untuk membuat part dengan shape sempurna, dibutuhkan 7 orang dan waktu 1 bulan dengan pengerjaan 12 jam setiap harinya. Sementara divisi cat, memakan waktu hingga 2 minggu dengan 6 stripe color yang berbeda.

Teknologi baru tak ketinggalan disematkan, pada system mekanikal, radiator dan sistem perangkat Motogadget tertanam pada bagian bawah jok. Well done.

 

Harley-Davidson Softail 2003 by Flying Piston

Bangun motor custom seperti candu bagi Didi Rangkas. Harley-Davidson Softail ini misalnya, yang sudah jadi motor custom kelimanya. Pria yang dikenal sebagai tracker asal Rangkasbitung, Banten ini memang tak suka menunggangi motor-motor berbodi standar.

Di workshopnya Flying Piston Garage, Didi menginginkan motor dengan tampilan old skool. Basic mesin karburator digarap agar tetap asik meski buat riding jauh. Karenanya, dipilih tipe Dyna yang kapasitas mesinnya sudah mumpuni buat jalan jauh.

Seluruh frame menganut rangka hardtail, bersanding dengan front end springer replica dari H-D model lawas. Karena mengginginkan tampilan bobber, kedua roda dipilih dengan ukuran yang sama. Biar motor terkesan ‘nakal’ saat riding, perpindahan gigi dibuat model suicide clutch dengan tongkat yang bisa dipindah dengan tangan kiri. Namun untuk memudahkan pengoperasian, ia memasang perangkat kopling otomatis aftermarket, biar nggak repot saat di jalan macet.

Teks: Wildaf | Foto: Herry Axl, Jordan Haikal, Istimewa.