Wheels of Wanderer | Jelajah Sumba, Menikmati Alam Dengan Cara Sedikti Berbeda
Keindahan alam Indonesia membuat para adventurer selalu tergoda untuk menjelajahinya. Banyaknya spot di berbagai penjuru membuat keindahan negeri ini tak habis-habis untuk dikulik. Kali ini giliran Teddy Sanjaya atau biasa disapa Teddy AWS yang menjajal Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur.
Perjalanannya ini termasuk dalam campaign “Wheels of Wanderer” yang digalakkannya. Projek ini turut disupport oleh kawan-kawan dari Ulah Adigung yang menargetkan untuk riding ke Asia Tenggara pada 2018 nanti.
Perjalanan kali ini dimulai dari bulan Juni hingga pertengahan Oktober. Rencana awal yang akan menelusuri Jogja-Bali-Lombok-Sumbawa dan Sumba, kemudian malah berlanjut ke Flores. “Jadi sekitar bulan Juni, saya dapet telpon dari Pakde Bambang, seorang senior yang merupakan Dosen Hukum Pasca Sarjana UI yang sudah berumur 75 tahun untuk minta temani jalan ke Indonesia Timur. Dia bilang bisa jadi ini touring terakhirnya. Akhirnya saya jalan,” buka Teddy.
Perjalanan ini tak dilakukan sendiri. Tim awal terdiri dari 7 orang, yaitu Pakde bambang (BMW R51), Yudi (H-D WLA 1948), Pak Agung (BSA B33 1956), Mas Bambang Ketel, Kong Hilbilly dari Thailand (Triumph TR7), Fami Isa dari Malaysia (BSA A10), dan Teddy sendiri dengan H-D WLC 1951 andalannya yang ia namai ‘Si Karat’. Setelahnya, beberapa ikut bergabung seperti Risky ( BSA A65), Andika (BMW, GS), Cessa (Ariel), Kang Dody (Matchles), Mang Pe’i (Norton ES2) dan Pak Ruslan (Ural).
Semuanya tak bertemu secara langsung karena mereka memiliki start masing-masing. Sementara Teddy memulai perjalanan dari Jawa, menyebrang ke Bali dan berkumpul di Lombok, kemudian bersama-sama ke Sumbawa, Sumba, lalu Flores. Perjalanan ini juga sempat diwarnai beberapa trouble pada engine motor, namun tak jadi kendala berarti. Selain trouble, cerita-cerita indah lebih banyak ditemui sepanjang perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan ini.
“Kalau diceritakan banyak sekali hal menarik selama perjalanan. Namun intinya dari apa yang kami lihat dan rasakan adalah, betapa potensi alam Indonesia Timur baik dari keindahan alamnya ataupun dari hasil lautnya kaya sekali. Sayangnya lambatnya pembangunan, terutama pada sisi pendidikan, bikin perkembangan di sana jadi terhambat,” imbuhnya.
Teddy melanjutkan, “salah satu ceritanya, saat kita menyempatkan diri mampir di desa Tarung, desa yang berada di Waikabubak, Sumba Barat, di mana para penduduk bilang ini baru pertama kalinya mereka dikunjungi motor-motor yang tahunnya tua dari Jawa. Desa Tarung sendiri adalah desa tradisional dengan pemandangan dan suasana yang luar biasa, namun beberapa hari setelahnya tepatnya setelah kami berada di Flores, ada kabar kalau desa tersebut terbakar, kami sangat sedih tentunya”.
Sepanjang trip di Indonesia timur, perjalanan diiringi pemandangan luar biasa dan udara segar. Jalanan berliku dengan bukit yang membenatang di sepanjang menjadikan pengalamannya kali ini terasa luar biasa berbeda.
“Di Sumbawa barulah kita harus beristirahat karena ada trouble dari motor. Di sana saya bertemu petualang yang sudah seperti setrika karena bolak balik terus dari barat ke timur Indonesia, yaitu Ferry Kana yang juga anggota club Brotherhood,” paparnya.
Akhirnya pada pertengahan waktu, kelompok pun terbagi menjadi dua. Perajalanan dengan karakter motor yang berbeda-beda dengan karakter orang berbeda pula, membutuhkan kerja sama pengertian satu sama lai. “Bukan soal berapa jauh perjalanan yang kamu tempuh, bukan soal siapa yang pertama sampai di destinasi, atau bukan soal jadi lebih tau teman perjalananmu, menurut saya di perjalanan ini adalah tentang lebih memahami siapa dirimu sebenarnya dan memaknai perjalanan itu sendiri, sehingga bisa lebih berbagi dengan orang lain,” pungkasnya.
Teks: Wildaf | Foto: Istimewa.


















Leave a Comment