Yamaha Scorpio 2006 I Peking Wasiat
Peking Wasiat adalah sebuah nama yang terinspirasi dari sebuah drama komedi ala Jawa Timur yang artinya gamelan simpanan. Beranjak dari nama tersebut, Wibowo Suryo Putro builder dari BRC Custom mengagas Yamaha Scorpio 2006 miliki Moh. Fadhian 43 dominan dengan warna tembaga.
Pewarnaan bodi motor bukannya sederhana, karena tekniknya menggunakan teknik tempel menggunakan Copper leaf paper. Kertas jenis ini sedang tren di Negara Jepang yang diaplikasi untuk kerajian, Beberapa warna mudah didapat di Indonesia, namun khusus warna tembaga ini harus diorder.
“Teknik menempel tidak sembarangan, penempelan dengan tangan hanya membuat kertas robek, jadi harus telaten dengan mengunakan kuas,” jelas pria bertubuh tambun ini. Penempelan sengaja dibuat raw agar kesan classic pada motor menonjol. Setelah aplikasi copper leaf selesai, tangki dilapis clear sebanyak 6 kali plus grafis pinstripe, total 2 minggu pengerjaan untuk mewarnai motor ini.
Berangkat dari genre café racer, Yamaha Scorpio ini dipilihkan tangki dari Suzuki GP 125 yang sekilas mirip dengan milik Honda GL 100. Karena basic mesin cukup mumpuni, sektor kaki-kaki dibuat kekar. Urusan peredam kejut dipercayakan merek Ohlins, bagian depan up set down milik Suzuki GSX 1100R, sedangkan bagian belakang dijadikan dual shock. Agar USD bisa diaplikasi di frame Scorpio, triple clamp ambilkan dari H-D V-Road.
Tidak plug and play, sang builder harus putar otak agar stang bisa terpasang rapi. Stang dicustom, perpaduan milik Suzuki TS karena lebar, dan additional stang jepit dibalut dengan hand grip milik Suzuki Hayabusa. Nah plusnya bagian ujung stang sudah ada lampu signnya bro. So rapikan!
Untuk mencapai estetika, merek-merek terkemuka seperti ARC, Motion Pro, Machine Performance, melengkapi wilayah kontrol. Sementara headlamp mengadopsi gaya Rubricon dengan pilihan JW Speaker. Balik ke kaki, karena shock memiliki dual disk brake tromol mengunakan milik Ninja dual disk. Nah bagian callipers menggunakan Tokico yang totalnya 4 piston sebagai piranti penunjang keselamatan. Untuk kedua roda dipilihnya warp 9 yang dibalut dengan karet hitam Avon Distanzia.
Genre Café racer memang identik dengan tampilan dual shock, untuk itu Om Bowo sang builder harus menggantikan monoshock bawaan pabrik. Bagian sub frame didesain ulang dari pipa seamless berdiameter ¾ inci. Sub frame dibuat lebih lebar agar dapat menyematkan swing arm K Factory milik GSX 1000. Untuk teromol belakang mengaplikasi milik Honda CRF 450 termasuk gear dan disk brakenya.
Pekerjaan knalpot diselesaikan oleh Semprong dari Roda Jaya Factory. So bro komunikasi antar pelaku custom enthusiasts cukup terkondisi di kota Malang, sehingga kerja sama antar bengkel dapat diapresiasi. Om Bowo pun bisa leluasa mendesain knalpot sesuai dengan idenya. Tengok saja bagian exhaust pipe nampak sangar, stainless stell pipe dirajang dan dibentuk melengkung untuk membuat kesan gahar.
Sebagai finishing rangka dilapis dengan powder coating biar awet. Sedang bagian mesin dilapisi cat wrinkle yang biasa diaplikasi di motor HD. Ciamik pekerjaan tangan dilakukan di bagian tubuh mesin. “Saya membuat tools dari klep untuk menghias mesin. Mesin saya pahat dengan cara manual tanpa bantuan mesin untuk membentuk ornamen,” tutup pria yang gemar burung kicau.
Kerja keras terbayarkan. Scorpio buatan BRC Custom ini sudah beberapa kali mengantongi trophy. Tahun 2016 berhasil memikat juri di Kustomfest Yogyakarta, dan minggu lalu juga terpilih sebagai The King Café racer di sebuah kontes daerah tepatnya di kota Malang.
Teks & foto: Uky Basuki














Leave a Comment