Kawasaki KZ200 1984 | Chopper Banyumanik

Ibukota Jakarta yang terkenal dengan padatnya lalu lintas kini mulai dirasakan juga oleh biker asal Semarang bernama Raka bramantya. Dengan kondisi seperti itu ia pun harus memutar otak agar tunggangannya “asik” di ajak berkendara dalam padatnya lalu lintas kota Semarang. Berbasis motor lawas Kawasaki KZ200 lansiran tahun 1984 ia menggarap motor beraliran Chopper dengan konsep simple.

Dimulai dari pengerjaan tangki bensin di 69nerakatau dengan model minimalis bergaya peanut cut, Raka kemudian menggarap rangka yang di buat dari nol. Pembuatan rangka terbilang rumit pasalnya, ia harus berulang kali fitting sesuai postur tubuhnya. Soal ini ia benar-benar menggarap serius dikarenakan penggunaan Chopper harus sesuai dengan badan pengunanya. Menurutnya, posisi riding menentukan kenyamanan pribadi dirinya dalam berkendara.

Usai menggarap rangka, ia juga memikirkan suspensi depan yang nyaman. Beberapa pilihan ia abaikan dan menjatuhkan pilihan pada suspensi model teleskopik kepunyaan Honda Tiger. Selain nyaman, suspensi ini juga terlihat lebih slim karena memang konsep motor ini dibuat slim dan simple. Sementara di bagian belakang ia sama sekali tidak menggunakan suspensi alias rigid. Demi kenyamanan di jalan saat mengendarainya ia memiliki pertibangan sendiri dengan mengakali tekanan ban yang sedikit dikurangi agar “bumpy”. “Menurut saya disitu lah ke-asikan naik motor dengan frae model rigid…hehe”

Proses fitting dianggap selesai, ia pun kembali melanjutkan pengerjaan ke langkah pengecatan. Dimana ia menjatuhkan pilihan warna biru pada tunggangannya, ia pun mempercayakannya pada wawan junx. “Sensasi mengendarai motor saya itu asik karena bisa mengendarai motor yang saya banget, simple! Saya suka motor yang bisa di bawa kemana aja, nyelip-nyelip jalanan ibu kota jateng yang sudah mulai macet dimana-mana jadi untuk itu saya bikin konsep slim namun tetap enak dilihat “simple is best”.

Jika dirinya harus berkelana saat malam hari, Raka pun harus memikirkan penerangan motor miliknya. Tidak sengaja ia menemukan sebuah lampu depan milik Harley-Davidson dengan model yang pas untuk motornya ini. Alhasil ia mengaplikasikan pada tunggangannya ini sebagai lampu utama saat malam hari tiba. “Kebetulan ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil terus kaca lampu juga senada dengan cat tangki bensi motor saya yaitu biru”.

Bicara performa, ia menjelaskan jika motor miliknya tidak terlalu mengandalkan akselerasi namun lebih mengutamakan torsi. Selain itu, mesin selalu menjadi prioritas dikarenakan usia yang terbilang sudah sangat uzur. “Pengalaman unik motor saya saat riding adalah tidak lain hanya mogok! ya namanya juga motor tua. Kawasaki Binter Merzy pasti kadang suka ngambek alias mogok tapi, untuk motor saya ini kalo mogok pasti hanya beberapa meter dari tujuan saya, entah kenapa tiap mogok pasti ketika sudah dekat dengan tujuan saya, jd ngga nyusahin juga klo mogok di tengah-tengah perjalanan…hehehe”.

Teks: Andhika Kresna | Foto: Jordan Haikal.

Attachment

MJH_0038

Leave a Comment