Royal Enfield Riding Experience | Cerita Perjalanan Jelajahi Lombok Dengan Hanya 14,5 Liter Saja
Dalam rangakaian pembukaan dealer di Bali Royal Enfield, PT Distributor Motor Indonesia (DMI) selaku Authorized Dealer motor Royal Enfield menggelar fun riding menjelajahi pulau Lombok. Perjalanan ini dilakukan selama 4 hari (28-31/8) dengan 8 riders dan 8 motor yang disediakan untuk diuji ketangguhannya. Dalam trip ini, ada 2 tipe motor seperti Royal Enfield Classic 500 dengan system injeksi dan Royal Enfield Bullet 500 yang masih menggunakan karburator.
Keseruan riding Royal Enfield ini bukan saja akan menghadapi jalanan Lombok dan suguhan panorama yang indah. Ridersnya juga keren-keren bro! Dari 8 riders yang tergabung, Didi Fauzi selaku Marketing & Partnership PT DMI memasukkan satu lady biker untuk menguji kenyamanan Royal Enfield Classic 500 untuk menjelajahi pulau Lombok. 8 biker yang turut melakukan perjalanan adalah Ferry Kana - seorang solo biker dan fotografer yang sekaligus mengemban tugas sebagai Road Captain, Denny Chasmala - musisi Indonesia yang juga tergabung dalam program Motorbaik dan sudah riding Royal Enfield dari Kota Jogjakarta hingga Pulau Bali, Bucek - aktor yang doyan bertualang, Didi Fauzi dari PT DMI, Abrina - satu-satunya lady biker dalam tim, Arif Syabani - jurnalis motor, team fotografi, dan saya sendiri - perwakilan dari Gastank Magazine.
Tepatnya hari Senin pukul 09:00 WITA (28/08), kami mengawali perjalanan dari markas Royal Enfield di Sunset Road No. 27 Bali. Saya sendiri mendapatkan motor yang benar-benar baru mengaspal jalan, terbukti dari kilometer yang tercatat baru 255 km. Setelah mengawali dengan doa kami langsung saja mengarahkan motor menuju gas station yang letaknya di sebelah markas Royal Enfield untuk mendapatkan asupan bahan bakar di motor kami. Tercatat 13 liter Pertamax yang dituangkan ke tangki motor saya.
Tujuan berikutnya adalah penyeberangan Ferry ke pulau Lombok yaitu pelabuhan Padang Bai. Namun untuk mencapai lokasi, kami harus membelah kemacetan di jalan By Pass Bali. Untuk saya yang memiliki tinggi badan 173 cm dan berat badan 55 kg, cukup mudah untuk membelah kemacetan Bali dengan Royal Enfield Classic, takjub karena saya juga tidak merasakan hawa panas dari mesin 500cc di kedua kaki saya.
Seperti yang pernah direview di beberapa artikel, mesin Royal Enfield terdengar cukup kasar dan getaran terasa hingga handle grip. Sambil mengarungi Selat Lombok yang durasinya +/- 5 jam, saya pun penasaran dan mencoba sharing riding impression saya dengan Ferry Kana yang sudah menghabiskan puluhan ribu kilometer riding motor ini.
“Awalnya saya, juga mengalami hal yang sama. Tapi jangan kuatir, semakin bertambahnya kilometer performa motor makin baik. Seperti ada click antara biker dan motor,” canda Ferry Kana.
Mendarat dengan selamat di Pelabuhan Lembar Lombok, kami pun bergegas menuju sebuah restoran untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan. Misi selanjutnya mencari spot sunset yang indah untuk mengabadikan moment pertama kami mengaspal di pulau Lombok.
Perjalanan dilanjutkan menuju tempat kami menginap di Lombok Barat tepatnya di Krisna Bungalow, di pantai Sekotong, sebuah penginapan yang letaknya dipinggiran pantai. Sayang dari Lembar perjalanan harus kami ditempuh selama 1 jam, dan ini pertama kali saya riding dalam kondisi petang. Maklum jalan di daerah berkembang, sehingga banyak truk proyek yang melintasi dan mengakibatkan jalan aspal bergelombang, plus pasir dan krikil di tikungan, jadi musti ekstra hati-hati. Bekal lampu Halogen bawaan pabrik cukup untuk menghantarkan kami dengan selamat menuju pantai Sekotong. “Saya paling ngeri dengan pasir dan krikil, bahaya apalagi di tikungan tempat biasa kami melakukan pengereman,” ujar Denny Chasmala.
Hari kedua bikers berusaha beranjak dari kasur untuk mengabadikan moment Sunrise dari depan kamar kami. Luar biasa keindahan panorama yang dipersembahkan di pulau ini. Setelah seluruh anggota siap kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Mekaki berjarak +/- 15 km dari Sekotong. Perjalanan cukup menyenangkan karena tidak ada trek menyulitkan anggota.
Ferry Kana pun mulai beraksi memutuskan jalur mana yang layak untuk anggotanya. “Jujur saja ada beberapa jalur yang sedikit ekstrim karena rusak dan perbaikan, tapi saya akan pilih jalur yang aman. Cuma kalau sedikit nyasar enggak apa-apa ya?” candanya.
Target selanjutnya adalah makan siang di pantai Kuta, Lombok Selatan. Disitu keahlian para bikers ini mulai diuji, memasuki beberapa desa, tidak semua jalur mulus, beberapa aspal rusak berubah menjadi jalur tanah dan kerikil. Untuk membawa motor berkapasitas 500cc tanpa ambruk apalagi jatuh adalah sebuah tantangan. Syukur semua anggota mampu melewatinya, termasuk Abrina lady biker kita.
Jarak yang kami tempuh sekitar 97 km menuju pantai Kuta Kabupaten Lombok Selatan, tak lupa berhenti di beberapa spot untuk mengabadikan keindahan Lombok, seperti di perbukitan Teluk Sepi, dan di perbukitan pantai Torok Aikbeliuk. Kenyang makan siang di Kuta, tancap gas lagi. Kali ini tujuan kita adalah Sembalun Kabupaten Lombok Timur. Targetnya adalah hotel Nusantara di kaki gunung Rinjani, jadi setelah pantai selanjutnya udara segar pegunungan siap menanti.
Dalam perjalanan kami kembali memenuhi bahan bakar di jalur Aikmel. Total 9 liter Pertamax yang masuk dalam tangki saya hingga full. Catatan kilometer di motor menunjukkan 507 km, jarak tempuh yang sudah saya lakukan 252 km, jadi saya menyimpulkan konsumsi bahan bakar Royal Enfield Classic 500 ini adalah 1:28. Cukup irit bukan? Sayang karena kepadatan lalu lintas Lombok, sempat membuat saya tertinggal oleh rombongan. Tantangannya saya harus memacu motor 500cc ini, meski akselerasi tak se-responsive produk Jepang, namun finishing tenaga yang dihasilkan positif sehingga cepat mengembalikan saya ke dalam rombongan.
Well, meski target update Instagram kami tak terpenuhi, kami tiba dengan selamat di Desa Sembalun saat petang. Desa ini letaknya 1150 mdpl. Di malam hari bukan saja sejuk namun freezing, apalagi kami baru saja riding melewati hutan-hutan Geopark Rinjani.
Esoknya target kami adalah pantai Senggigi. Untuk mencapai sana, kami tidak mencari jalan yang cepat melainkan spot-spot cantik untuk berinstagram. Hehe. Untuk itu kami kembali menuruni kaki gunung Rinjani, menuju jalur utama Lombok Timur dan Lombok Utara.
Dalam perjalanan turun gunung saya mengandalkan engine brake, tapi juga tak jarang dalam posisi top gear. Di 570 km suara mesin motor yang saya tunggangi semakin kasar layak knocking, dalam hati sedikit cemas semoga piston tidak jump karena beberapa kali harus memacu motor hingga 100km/jam. Mengingat ucapan Ferry Kana mengenai ‘click antara motor dan biker’, terbukti puluhan km kemudian suara kasar dari mesin hilang, surprise kali ini respon motor juga getaran semakin baik dari sebelumnya. “Motor ini dari India, kalau dibandingkan kondisi cuaca dan kebiasaan manusianya di sana tidak lebih baik dari Indonesia. Sudah pasti mereka mendesain motor ini tahan banting bro,” imbuh Ferry.
Dalam riding sejauh 207 km menuju Senggigi, kami menyempatkan mampir ke Sambelie kabupaten Lombok timur untuk melihat pohon purba, dan kembali ke dataran tinggi Senaru untuk makan siang. Target 2 jam riding menuju Holiday Inn Resort Pantai Senggigi, terpenuhi sehingga kami bisa mengabadikan moment Sunset dengan motor-motor kami, dan istirahat.
Tepat pukul 7 pagi kami harus meninggalkan hotel menuju pelabuhan Lembar. Sengaja kami berangkat lebih awal untuk menghindari macet kota Mataram, dan mencapai penyeberangan secepat mungkin, karena beberapa anggota harus mengejar flight menuju Jakarta. Tepat pukul 10:00 WITA kapal Ferri berangkat menuju Pelabuhan Padang Bai, bersyukur Ferry kami sandar sekitar pukul 15:00 WITA. Tak lama dari situ kami kembali mengunjungi gas station, terbukti motor Royal Enfield irit karena saya hanya menambahkan 5.5 liter setelah menempuh perjalanan naik turun perbukitan dan indahnya perjalanan di pesisir pantai Lombok. Setelah pukul 16:00 WITA, kami tiba dengan selamat mencapai markas besar Royal Enfield di Sunset Road Bali. Jadi total perjalanan kami di pulau Lombok sejauh +/- 630 km cukup dengan 14.5 liter. Amazing!
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, lady biker Abrina juga cukup terkesan dengan Royal Enfield Classic Lagoon yang dikendarainya karena ia tak kesulitan riding dengan motor ini. “Mau buat kenceng oke, buar nyantai juga oke,” tutup ibu 2 anak ini.
Buat loe yang ingin merasakan riding bersama Royal Enfield, program seperti ini rencananya akan diadakan PT DMI untuk umum. Tidak perlu punya motor, dengan melakukan regristrasi dan membayar biaya tertentu, Royal Enfield menyediakan motor untuk kemudian mengeksplore Pulau Lombok.
“Ini acara fun riding sekaligus survey, dari wisata motor yang akan kami tawarkan pada kalangan pencinta riding, dan adventure. Target kami orang-orang yang berusia 25 ke atas, dan sudah pandai mengendarai motor. Pilihan di pulau Lombok untuk menghindari padatnya lalu lintas seperti di Bali. Selain itu Lombok banyak menawarkan keindahan alamnya, sebagai sarana refresh diri setelah menjalani kesibukan di kota besar,” jelas Didi Fauzi yang mengendarai Royal Enfield Classic 500 Squadron Blue.
Teks: Uky Basuki, Foto: Uky & Royal Enfield.



























Leave a Comment